Friday, February 1, 2013

Wakilkan pada Al-Wakil

Kali nak kongsi sedikit ilmu pasal tawakal dari buku Hati Sebening Mata Air tulisan Amru Khalid. Buku ni biru putih :D

Nak mulakan dengan kisah tawakal seorang sahabat.

Ketika Abdullah bin Mas’ud menghadapi ajal di zaman Khalifah Utsman bin Affan, khalifah datang menjenguk Ibnu Mas’ud, dan berkata, “Wahai Ibnu Mas’ud, kami akan memberimu harta.” Ibnu Mas’ud bertanya, “Mengapa?”. Khalifah menjawab, “Bukankah kau punya tiga anak perempuan?” Ia bertanya, “Apakah kamu takut mereka akan (menjadi) fakir?” Khalifah menjawab, “Ya, wahai Ibnu Mas’ud, aku takut anak-anakmu akan (menjadi) fakir.” Ia berkata, “Tidak, Demi Allah, aku telah mengajari anak-anakku untuk membaca surah Al-Waqiah setiap malam, dan aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa membaca Al-Waqiah setiap malam, ia tidak akan tertimpa kefakiran selamanya.’ (HR Ahmad dan Al Baihaqi. Hadith ini didhaifkan oleh Ibnul Jauzi)

Itu adalah tawakal Abdullah Ibnu Mas’ud. Anak-anak yang bakal ditinggalkan diwakilkan pada Al-Wakil.

Bagaimana dengan tawakal kita?


Perkataan tawakal berasal dari nama Allah, Al-Wakil. Apa makna Al-Wakil? Al-Wakil ialah Dzat yang mengurus hamba-Nya, dengan kebaikan-Nya, tidak akan menyia-nyiakan dan menimpakan kemudharatan, bahkan Dia akan menunjuki jalan kemaslahatan. Al-Wakil termasuk asmaul husna Allah. Allah bertanggungjawab agar kita hidup dengan benar, jauh dari mudharat, dan penuh dengan kebaikan.

Setiap kali Allah menutup satu pintu rezeki, maka Dia akan membuka enam atau tujuh pintu yang lain. Allah tidak akan menghalangi satu rezeki pun dari manusia. Bila Dia menghalangi, maka itu agar kita memikirkan hikmahnya. Samada Allah membuka jalan rezeki dengan menutup jalan rezeki yang lain ataupun untuk menguji dan mengampuni kita, hingga kita keluar dari dunia sebagai penghuni syurga.

Beberapa tafsiran ulama tentang tawakal mengikut buku ini:

Pertama, kepasrahan hati di hadapan Allah seperti pasrahnya mayat di hadapan orang yang memandikannya. Tahu tak apa yang dilakukan orang yang memandikan mayat? Ia membolak-balik tubuh mayat itu seenaknya. Begitulah tawakal. Kita katakan pada Allah, “Ya Allah, lakukan semua yang Kau kehendaki, aku pasrah dengan seluruh keberadaanku, aku redha dengan apa yang akan Kau lakukan, aku bertawakal padaMu, kerana aku yakin Kau tidak akan menjerumuskanku menuju kemudharatan.”

Kedua, biarkanlah Allah untuk berbuat sekehendakNya. Kita berposisi sebagaimana Allah memposisikan kita, kita redha dan senang dengan ketetapanNya, kita katakan, “Ya Allah, apa yang datang dariMu aku senang menerimanya, aku yakin Engkau tidak akan menelantarkanku dalam kemudharatan.”

Ketiga, kita menyempurnakan “sebab” dengan anggota badan, dan memutuskan “sebab” dari hati kita. Sebagai contoh, kita ingin menghadiri temuduga kerja. Hati kita terus menerus bergantung harapan pada Allah. Itulah tawakal kita. Tapi anggota kita menyempurnakan ‘sebab’ dengan beradab, menggunakan bahasa yang sopan dengan interviewer, mengikut etika interview yang seharusnya. Pergaulilah manusia dengan adab kita, dan ambillah ‘sebab’, tetapi putuskanlah hati kita dari ‘sebab’. Itulah yang dinamakan tawakal.

Keempat, kita rela Allah menjadi wakil kita. Relakah kita, Allah menjadi wakil kita? Bukankah ketika kita ditimpa musibah, kita akan bersandar pada manusia. Ya! Kita akan bersandar pada manusia, tetapi itu sebatas dengan anggota badan. Kalau kita bersandar pada manusia dengan hati, ini jelas sebuah kesalahan. Inilah tawakal. Kita rela Allah menjadi tempat bersandar. Kita katakana, “Aku serahkan semua urusanku padaMu, wahai Rabbku”


Sampai sini je dulu, sedikit ilmu tentang tawakal. Yang penting adalah amali kita. Bertawakal atau tidak dari bangun tidur pagi ini hingga ke bangun tidur keesokannya?






0 comments:

Post a Comment

Komen anda..