Monday, January 14, 2013

Orang-orangan Sawah


Aku mengangguk kecil, menunjukkan bahwa aku mengerti semuanya. Lalu aku teringat tentang suatu pembicaraan kami yang belum tuntas tempo hari, dan aku segera menanyakannya.

“Oh, tentang orang-orangan sawah itu….” Ia bergumam.

Aku membenarkan.

Ia kemudian duduk di anak tangga teratas terasku, meraih cangkir plastic yang berisi teh manis yang tadi disuguhkan emak, dan menyeruputnya. Kembali ia menjelaskan dengan pelan-pelan padaku.

“Menurutku, perumpamaan itu kubandingkan dengan kehidupan kita. Aku pernah melihat ada burung-burung pipit yang senang menghinggapi orang-orangan sawah, tetapi aku juga sering melihat orang-orangan sawah yang bekerja sesuai tugasnya, yaitu mengusir burung-burung pipit itu pergi dari sawah dan membuat mereka membencinya.” Ia berhenti sejenak, lalu meneruskannya.

“Cobalah kita pikirkan, jika orang-orangan sawah tidak disukai oleh burung-burung pipit, itu wajar. Orang-orangan sawah memang diciptakan para petani untuk mengusir burung pipit. Terdapat suatu kali, ada orang-orangan sawah yang disukai burung pipit. Mereka hinggap di dekatnya, di kedua tangannya yang terbentang, di punggung atau kepalanya yang bertopi petani. Kau pernah melihatnya?” tanyanya padaku.

Aku hanya mengangguk kecil. Dia melanjutkan.

“Itu jika suasana sedang tenang, petani tak ada, dan orang-orangan sawah diam saja kerana tidak ada yang menggerakkannya. Dan mungkin, wajah orang-orangan sawah itu tidak dibuat sejelek wajah orang yang sedang marah sehingga menakutkan burung pipit. Mungkin kali ini ia dibuat seseorang yang sedang berbahagia, jadi kebahagiannya itu menular pada orang-orangan sawah yang sedang dibuatnya…” Kak Iman tersenyum. Aku pun ikut tersenyum kecil.

Aku membayangkan orang-orangan sawah yang bermuka ramah dan dikerubungi para burung pipit yang menyukainya. Sesekali bahkan, beberapa burung pipit menawarinya bijih padi, walaupun orang-orangan sawah itu tidak memakannya.

“Sekarang kita ibaratkan orang-orangan sawah itu sebagai manusia, tetapi kebalikannya, “ katanya serius. “Kukatakan sekali lagi, ini kebalikannya. Allah menciptakan manusia itu ada tujuannya, iaitu untuk menjadi khalifah di bumi. Khalifah itu bahasa Arab, Ta. Artinya pemimpin, penguasa,” jelasnya sejenak. Aku mengangguk-ngangguk, sennag karena diajari banyak hal yang hebat, walaupun kadang-kadang aku menemui kesulitan. Aku juga senang sebab ketika melihatku seperti kebingungan, ia bersedia mengulanginya lagi atau menjelaskan dengan pelan-pelan. Benar-benar pencerita yang hebat. Ilmu yang didapatnya di kota pasti banyak sekali. Aku ingin sekali menjadi sepintar dirinya.

“Artinya, sebagai makhluk yang tertinggi derajatnya di bumi, manusia diwajibkan bertingkah laku baik terhadap sesamanya dan makhluk lain. Ia harus menjadi sahabat bagi siapa saja dan menyebarkan kebaikan kepada semua yang berada di dekatnya. Itu tugasnya. Tetapi, ia sendiri yang akan menentukan apakah tugasnya itu akan berhasil atau tidak. Walaupun ia diciptakan Allah dengan tujuan kebaikan, jika ia tidak berkenan atau tidak punya niat itu, misalnya ia sendiri tidak bersikap ramah, tidak membuka diri, dan memasang muka menyebalkan, menakutkan atau membuat orang lain enggan atau tidak simpati…. Coba kita piker…?  Ia berpaling sebentar padaku. “Siapa yang akan mendekatinya? Siapa yang mau menyapa dan berteman dengannya? Ada tidak yang mau bermain bersamanya?”

Lama aku termenung.

Siapa yang akan mendekatinya? Siapa yang mau menyapa dan berteman dengannya? Ada tidak yang mau bermain bersamanya?

Orang yang seperti itu……. Mungkin aku. Buruk sekali rupanya.

Lama kemudian, barulah aku mengangguk mengerti. Orang-orangan sawah yang diciptakan untuk dijauhi burung pipit saja kadang-kadang bisa menjadi teman bermain… mengapa manusia yang diciptakan untuk berbuat kebaikan kepada semua yang ada di sekelilingnya terkadang bisa menjadi orang yang dijauhi?

“Inilah perbandingan kebalikan, ‘Kak Iman tersenyum melihat aku yang mengangguk-ngangguk, lalu kembali memandang sawah. “Kalau istilah kerennya, analogi kebalikan. Dulu, sewaktu aku kecil, banyak yang tidak mneyukaiku. Katanya mukaku bukan muka bersahabat dan aku terlihat seperti orang egois yang memikirkan dirinya sendiri saja. Aku kemudian menyadari itu dan berusaha mengubah tampilku. Kalau kita berharap orang akan mengubah sikap yang buruk kepada kita dengan sendirinya, itu salah. Kitalah yang pertama-tama harus mengubahnya. Kata Allah, Ia tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang berusaha mengubahnya. Seperti itu jugalah nasib kita masing-masing. Manusia adalah perencana saja, sedangkan pemutus segala sesuatunya adalah Allah.”

Aku mencuba memahaminya lagi. Semuanya.

“Berani kukatakan,” ia menoleh sedikit padaku. “kau sebenarnya memiliki kecerdasan. Jelas sekali itu terlihat olehku. Kau punya hak untuk mengembangkannya. Kau harus maju, Ta.”

Aku menghela napas, tidak menjawab. Itu mungkin benar. Hanya saja, mungkin aku belum menemukan kesempatan yang baik untuk hidupku. Tuhan ingin aku berpikir dulu… tentang kepahitan dan pelajaran darinya. Kalimat terakhir Kak Iman tadi itu sungguh menggugah kelemahanku. Aku pun menginginkan itu.

Ah, andai dia tahu betapa banyak aku memiliki mimpi , termasuk bersekolah lebih tinggi dan menjadi orang yang berhasil. Di antara mimpiku yang banyak, itu mimpi yang tertinggi dan kadang-kadang membuatku kehilangan keberanian, karena aku merasa itu sesuatu yang nyaris tidak mungkin untuk kudapatkan.

Tetapi baiklah. Demi semua yang telah dilakukan orang-orang yang begitu baik padaku ini, Kak Iman dan keluarganya, aku pun harus punya tekad.

Sore ini menjadi saksi. Tekadku telah terpatri.

“Kak…..” Terbata aku bersuara, haru. Ia menoleh.

“Terima kasih ya, sudah menyemangati Ita….” Kataku.

Ia hanya tersenyum.



-Cinta Sang Penjaga Telaga-

0 comments:

Post a Comment

Komen anda..