Sunday, July 15, 2012

Sulit, Mudah, RidhaNya

Satu waktu sudah lama sekali
seseorang berkata dengan wajah sendu
"alangkah beratnya... alangkah banyak rintangan... 
alangkah berbilang sandungan... alangkah rumitnya."


Aku bertanya, "lalu?"
dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk
"apakah sebaiknya kuhentikan saja ikhtiar ini?"


"hanya karena itu kau menyerah kawan?"
aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup 
menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti dialaminya
"yah... bagaimana lagi? tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa Allah tak meridhainya?"


aku membersamainya menghela nafas panjang
lalu bertanya, "andai Muhammad, Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berpikir sebagaimana engkau menalar, kan adakah islam di muka bumi?"
"maksudmu akhi?", ia terbelalak


"ya. Andai Muhammad berpikir bahwa banyak kesulitan berarti tak diridhai Allah, bukankah ia akan berhenti di awal - awal risalah?"


Ada banyak titik sepertimu saat ini, saat Muhammad bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar,
mungkin saat dalam rukuknya ia dijerat di bagian leher
mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta
mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya di sambar batu
mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir
mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di Syi'b Abi Thalib
mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata
atau saat paman terkasih dan istri tersayang berpulang
atau justru saat dunia ditawarkan padanya ;tahta, harta, wanita...."


tapi Muhammad tahu, kawan
Ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya,
berat atau ringannya, bahagia atau deritanya
senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya,


"Ridha Allah terletak pada
apakah kita mentaatiNya
dalam menghadapi semua itu
apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larangNya
dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan."


"maka selama disitu engkau berjalan
bersemangatlah kawan..."




-Ust. Salim A. Fillah-







0 comments:

Post a Comment

Komen anda..