Sunday, June 5, 2011

Rahmat atau musibah?

adakah ini rahmat atau musibah?

Kisah ini adalah sebuah sejarah kecil pada era Abbasiyah akhir, di mana negeri-negeri Islam tersekat oleh pelbagai kesultanan yang berkuasa sendiri-sendiri. Ini adalah kisah tentang seorang ayah dan anak. Sang ayah adalah seorang bekas hamba (budak). Sepanjang menjadi hamba, cuti pada petang Jumaat sebagaimana yang ditetapkan oleh kesultanan, dimanfaatkan sepenuhnya dengan berhabis-habisan bekerja. Dengan dirham demi dirham yang terkumpul, pada suatu hari dia meminta izin untuk menebus dirinya pada sang majikan.

“Tuan,”ujarnya. “Apakah dengan membayar harga senilai dengan harga engkau membeliku dulu, aku kan bebas?”
“Hmm…Ya. Boleh.”
“Baik, ini dia,”katanya sambil meletakkan bungkusan wang itu di hadapan tuannya. “Allah telah membeliku dari tuan. Dia membebaskanku. Alhamdulillah.”
“Maka engkau bebas kerana Allah,”ujar sang tuan tertakjub. Sang tuan bangun dari duduknya dan memeluk sang budak. Dia hanya mengambil separuh harga yang tadi disebutkan. Separuh lagi diserahkannya kembali. “Gunakanlah ini,”katanya berpesan, “Untuk memulai kehidupan barumu sebagai orang yang merdeka. Aku berbahagia menjadi sebagian tangan Allah yang membebaskanmu!”

Dengan penuh rasa syukur dan terharu, dan juga sedikit khuatir, dia berkata. “Aku tidak tahu wahai tuanku yang baik,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca, “Apakah kebebasan ini rahmat atau musibah. Aku hanya berbaik sangka kepada Allah.

*******

Tahun demi tahun berlalu. Sang hamba telah menikah. Tetapi isterinya meninggal dunia ketika menyelesaikan tugas sebagai ibu, menyempurnakan susuan sang putera hingga usia dua tahun. Maka dia membesarkan puteranya dengan penuh kasih sayang. Dididiknya anak lelaki itu, untuk memahami agama dan menjalankan sunnah Nabi, juga untuk bersikap berani dan berjiwa merdeka.

“Anakku,” katanya di suatu pagi, “Ayahmu ini dulu seorang hamba. Ayahmu ini separuh manusia di mata agama dan sesama manusia. Tapi selalu ku jaga kehormatan dan kesucianku, maka Allah memuliakanku dengan membebaskanku. Dan jadilah kita orang merdeka. Ketahuilah anakku, orang bebas yang paling merdeka adalah orang yang mampu memilih caranya untuk mati dan menghadap Ilahi.”

“Ketahuilah,” lanjutnya, “Seorang yang syahid di jalan Allah itu hakikatnya tak pernah mati. Saat terbunuh, dia akan disambut oleh tujuh puluh bidadari. Ruhnya menanti kiamat dengan terbang ke sana ke mari dalam tubuh burung hijau di taman syurga, dan diizin baginya memberi syafaat bagi keluarganya. Mari kita merebut kehormatan itu, nak, dengan berjihad lalu syahid di jalan-Nya!”
Sang anak mengangguk-angguk.

Sang ayah mengeluarkan sebuah kantung berisi emas. Dinar-dinar di dalamnya bergemerincing. “Mari mempersiapkan diri,” bisiknya. “Mari kita beli yang terbaik dengan harta ini untuk dipersembahkan dalam jihad di jalan-Nya. Mari kita belanjakan wang ini untuk menghantar kita pada syahid dengan sebaik-baik tunggangan.”

Pada hari siang, mereka pulang dari pasar dengan menuntun seekor kuda perang berwarna hitam. Kuda itu gagah. Surainya mekar menjumbai. Tampangnya mengagumkan. Matanya berkilat. Giginya rapi dan tajam. Kakinya tegap. Ringkiknya pasti membuat kuda musuh tak diam.

Semua tetangga datang mengagumi kuda itu. Mereka menyentuhnya, mengelus surainya. “Kuda yang hebat!”kata mereka. “Kami belum pernah melihat kuda seindah ini. Luar biasa! Mantap sekali! Berapa yang kalian habiskan untuk membeli kuda ini?”
Anak beranak itu tersenyum simpul. Yah, itu simpan yang dikumpulkan seumur hidup.
Pada tetangga ternganga mendengar jumlahnya. “Wah!,” seru mereka, “Kalian masih waras atau sudah gila? Wang sebanyak itu dihabiskan untuk membeli kuda? Padahal rumah kalian senget nyaris roboh. Untuk makan esok pun belum tentu ada!” Kekaguman di awal tadi berubah menjadi cemuhan. “Pandir!” kata salah satu. “Tak tahu diri!”ujar yang lain.
Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah,”ujar mereka.


Para tetangga pulang. Sang ayah dan anak itu pun menjaga kuda mereka dengan penuh kasih sayang. Makanan si kuda dijamin yang terbaik; rumput segar, jerami kering, biji-bijian, dedak, air segar, malah bahkan ditambah madu. Si kuda dilatih keras, tapi tak dibiarkan lelah tanpa mendapat hadiah. Kini mereka tak hanya berdua, tetapi bertiga. Bersama-sama menanti panggilan Allah ke medan jihad untuk menjemput takdir terindah.

Sepekan berlalu. Pada hening pagi, ketika sang ayah mejemguk ke kandang, dia tak melihat apa pun. Kosong. Palang pintunya patah. Beberapa jeruji kayu terpatah teruk.
Kuda itu hilang!

Berduyun-duyun para tetangga datang untuk mengucapkan belas kasihan. Mereka bersimpati pada cita-cita tinggi kedua anak beranak itu. Tetapi mereka juga menganggap keduanya tersilap dan malang. “Ah, sayang sekali!” kata mereka, “Padahal itu kuda terindah yang pernah kami lihat. Kalian memang tidak beruntung. Kuda itu hanya hadir seketika untuk memuaskan cita-cita kalian, lalu Allah membebaskannya dan mengandaskan cita-cita kalian!”
Sang ayah tersenyum sambil mengusap kepala anaknya. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah,”ujar mereka serentak.
Mereka pasrah. Mereka mencuba untuk menghitung-hitung wang dan mengira-ngira, jika mampu membeli kuda lagi. Sang ayah menatap mata puteranya, “Nak, dengan adanya kuda ataupun tidak, andai panggilan jihad Allah datang, kita harus menyambutnya.”Si anak mengangguk-angguk. Mereka kembali bekerja dengan tekun seakan-akan tidak terjadi apa-apapun.

Tiga hari kemudian, menjelang subuh, kandang kuda mereka riuh. Suara ringkikan bersahut-sahutan. Terkejut dan terjaga, ayah dan anak itu berlari-lari ke kandang. Di kandang itu, mereka melihat seekor kuda hitam yang gagah dan indah. Tak salah lagi, itulah kuda mereka yang pergi tanpa khabar tiga hari yang lalu!

Akan tetapi, kuda itu bukan bersendirian. Ada belasan kuda lain bersamanya. Kuda-kuda liar! Itu pasti kawan-kawannya. Mereka datang dari kawasan luas untuk bergabung di kandang kuda hitam itu. Mungkinkah kuda punya akal? Mungkinkah si kuda hitam yang merasakan layanan terbaik di kandang bekas seorang hamba mengajak kawan-kawannya bergabung? Atau tahukah mereka bahawa kehadiran ke kandangitu bererti bersiap-siaga bertaruh nyawa untuk kemuliaan agama Allah, kelak jika panggilan jihad memanggil? Atau memang itu kah yang mereka inginkan?

“Bertasbih kepada Allah segala yang di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.
” (Surah as-Saff 61:1)

Ketika hari semakin terang, para tetangga datang dengan rasa takjub. “Luar biasa!”kata mereka. “Kuda itu pergi memanggil kawan-kawannya dan kini kembali membawa kawan-kawannya menggabungkan diri!” Mereka mengucapkan selamat kepada pemiliknya. “Wah, kalian sekarang kaya raya! Orang terkaya di kampung ini!” Tapi si pemilik kembali hanya tersenyum. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.” Hari keesokkannya, sang anak mencuba menaiki salah seekor kuda liar itu. Dia gembira memacu kuda ke segala penjuru. Seketika, kuda liar itu terkejut kerana bertembung dengan seekor lembu yang terlepas dari kandang di persimpangan jalan. Kuda itu meronta kuat, dan sang anak terpelanting. Kaki sang anak patah, dan dia merintih kesakitan.

Para tetangga datang menjenguk. Mereka menatap sang anak itu dengan pandangan penuh hiba. “Kami turut prihatin,”kata mereka. “Ternyata kuda itu tidak membawa tuah. Mereka datang membawa musibah. Alangkah lebih baiknya jika tidak memiliki kuda, jika anak sihat sentiasa!”
Sang ayah tersenyum lagi. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

Hari berikutnya, hulubalang raja mengelilingi negeri. Raja mengumumkan pengerahan psukan untuk menghadapi tentera musuh yang menyerang perbatasan. Semua pemuda yang sihat tubuh badan jasmani dan rohani, wajib bergabung untuk mempertahankan negeri. Sayang sekali, perang ini sukar dikatakan sebagai jihad di jalan Allah kerana musuh yang akan dihadapi adalah sesama Muslim. Mereka hanya berbeza kesultanan.

“Nak,” bisik sang ayah ke telinga anaknya yang sedang berbaring lemah, “Semoga Allah menjaga kita dari menumpahkan darah sesama Muslim. Allah Maha Tahu, kita ingin berjihad di jalan-Nya. Kita sama sekali tidak mahu beradu senjata dengan orang-orang beriman. Semoga Allah membebaskan diri kita dari beban itu!” Mereka berpelukan.

Para hulubalang datang mengunjungi setiap rumah dan membawa para pemuda yang memenuhi syarat. Ketika memasuki rumah sang ayah dan anak yang memiliki kuda, mereka mendapati sang anak terbaring di tempat tidur dengan kaki berbalut, dibalut dengan kayu dan kain.
“Mengapa dengan pemuda ini?’
“Tuan hulubalang,”ujar sang ayah, “Anak saya ini begitu mahu membela negeri dan dia telah berlatih untuk itu. Tetapi beberapa hari yang lepas, dia terjatuh dari kuda ketika sedang cuba menjinakkan kuda liar kami. Kakinya patah.”
“Ah, sayang sekali!” kata sang hulubalang. “Aku lihat dia begitu gagah. Dia pasti akan menjadi seorang perajurit yang hebat. Tapi baiklah. Dia tidak memenuhi syarat. Maafkan aku, aku tidak boleh membenarkannya turut serta!”

Dan pada hari itu, para tetangga yang ditinggal pergi oleh putera-putera mereka yang terpilih menjadi perajurit, datang menemui pemilik kuda. “Ah, nasib!”kata mereka. “Kami kehilangan anak-anak lelaki kami, tumpuan harapan keluarga. Kami terpaksa melepaskan mereka tanpa tahu apakah mereka akan kembali taua tidak. Sementara anakmu masih di rumah kerena kakinya patah. Beruntunglah kalian! Allah menyayangi kalian!”
Tuan rumah ikut hiba melihat kesediahan di wajah-wajah itu. Kali ini sang ayah dan anak itu tidak tersenyum. Tapi ucapan mereka kembali bergema, “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.”

Sebulan kemudian, kota itu dipenuhi ratapan para ibu dan tangisan para isteri. Sementara para lelaki hanya termenung dan termangu. Beritanya sudah jelas. Semua pemuda yang berangkat ke perang tewas di medan tempur. Tapi agaknya para penduduk telah banyak belajar dari anak beranak pemilik kuda. Seluruh penduduk kota kini mengucapkan kalimah indah itu. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.
Disingkatkan cerita, tidak berapa lama kemudian panggilan jihad yang sebenar bergema. Pasukan Mongol pimpinan Hulagu Khan menyerbu wilayah Islamn dan membumi-hanguskannya sehingga rata dengan tanah. Orang-orang Mongol maju menyerang seperti banjir bah, menghancurkan peradaban. Sang ayah dan anak itu memenuhi janji mereka. Mereka bergegas menyambut panggilan jihad dangan kalimah indah mereka, “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

Kedua-duanya menemui syahid. Namun sebelum itu, ada nikmat yang Allah kurniakan kepada mereka untuk dirasai di dunia. Sang anak telah ditangkap oleh pasukan Mongol dan dijual sebagai hamba. Dia berpindah-pindah tangan pemilik sehingga jatuh ke tangan Al-Kamil, seorang Sultan Ayubbiyah di Cairo. Ketika pemerintahan Mamluk menggantikan wangsa Ayyubiyah di mesir, kariernya melonjak cepat dari seorang komando kecil kepada panglima pasukan dan kemudian, Amir wilayah. Setelah wafatnya, Az-Zahir Ruknuddin Baibars, sang anak diangkat menjadi Sultan. Namanya, Al-Manshur Saifuddin Qalawun.

Inilah sekelumit kisah tentangnya. Qalawun yang berani, berprasangka baik dalam segala hal. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.” Seperti kisahnya, dalam ukhuwah, ada berjuta-juta kebaikan mengiringi prasangka baik kita kepada Allah. Allah sentiasa bersama kita dan melimpahkan kebaikan, kerana kita mengingati-Nya juga dengan sangkaan kebaikan.


Sedutan bahagian dari buku
“Dalam Dekapan Ukhuwah” tulisan Salim A. Fillah


artikal dari dakwah.info



0 comments:

Post a Comment

Komen anda..