Wednesday, May 4, 2011

Antara Lobak, Telur dan Kopi


Alkisahnya, seorang gadis datang kepada ibunya dan berkeluh kesah tentang kehidupannya yang dirasakan amat berat sekali ujiannya. Gadis itu tidak tahu bagaimana dia harus menjalani hidupnya dan mahu menyerah serta berputus asa. Dia merasa amat penat sekali menjalani kehidupannya. Jika masalah sering datang silih berganti dalam hidupnya.

Lantas,ibunya pun mengajak anak gadisnya ke dapur. Lalu diambil 3 buah periuk dan diisi dengan air lalu air itu dididihkan. Periuk pertama dimasukkan dengan lobak merah. Periuk kedua dimasukkan telur dan periuk ketiga dimasukkan biji kopi. Kemudian mereka menunggu lagi sehingga periuk-periuk itu kembali mendidih.

Setelah 20 minit ketiga-tiga periuk pun mendidih dan api dapur dimatikan. Ketiga-tiga bahan itu dikeluarkan dari periuk dan diletakkan dalam piring dan gelas mengikut kesesuaiannya. Lalu ibu itu berkata kepada puterinya,”apa yang kamu lihat sekarang anakku?”

Si anak pun menjawab “aku melihat lobak merah,telur dan kopi.”

Ibunya meminta anak gadisnya agar mendekat dan merasakan lobak merah tersebut. Lobak merah itu menjadi empuk dan lembik. Ibu tersebut kemudian meminta anaknya mengupas kulit telur yang telah masak itu. Setelah mengupas kulit telur itu,anaknya sedar bahawa isi telur itu telah masak dan mengeras kerana direbus. Akhirnya si ibu meminta anaknya untuk meminum kopi yang telah di rebus itu. Si gadis tersebut tersenyum merasakan aroma kopi yang sungguh enak.

“apakah maksud semua ini ibu?” Tanya gadis tersebut kepada ibunya.

Ibunya menjelaskan bahawa setiap benda-benda itu telah melalui "Kemalangan" yang sama, iaitu direbus di dalam air mendidih. Namun setiap benda mempunyai reaksi yang berbeza.

“Lobak merah itu sebelumnya kuat, keras dan "tidak berperasaan". Namun setelah direbus dia menjadi lembik dan lemah. Telur itu sebelumnya mudah pecah. Mempunyai dinding nipis untuk melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah direbus, cairan di dalamnya menjadi keras. Sedang butiran kopi adalah fenomena unik, ia menjadi air setelah direbus."

“ Kamu tergolong dalam kategori yang mana anakku?”kata si ibu kepada anaknya. “Jika “kemalangan” mengetuk kehidupan kamu,bagaimanakah kamu akan meresponnya? Adakah kamu akan menjadi seperti lobak merah, telur ataupun biji kopi?”

Renungkan hal ini :

Termasuk yang mana aku ini? Apakah seperti lobak merah yang terlihat keras namun ketika dihadapkan dengan masalah dan kemalangan aku menjadi lemah dan kehilangan kekuatanku?

Apakah hatiku ‘fragile’ seperti isi telur, namun ketika "dididihkan" oleh kematian, perpisahan, masalah kewangan atau ujian-ujian lainnya menjadikan hatiku kuat? Apakah dinding luarku masih terlihat sama namun kini didalam aku menjadi seorang yang gigih dan berjiwa keras? Atau aku mirip dengan biji kopi? Biji kopi sebenarnya mengubah air panas disekitarnya, iaitu keadaan yang membawanya dalam kepedihan. Ketika air mulai mendidih, maka dia mengeluarkan aroma dan rasa kopi yang nikmat.

Bila keadaan kian memburuk, mampukah kita mengubah situasi di sekitar kita menjadi suatu kebaikan? Ketika hari kian gelap dan ujian semakin bertambah, apakah kita mengangkat diri sendiri ke tingkat yang lain? Bagaimana kita menangani masalah-masalah hidup yang datang silih berganti? Adakah kita mirip sebiji lobak merah, sebutir telur atau biji kopi?

Semoga kita mempunyai cukup bekal kebahagiaan untuk membuat hidup terasa indah. Cukup ujian agar membuat kita kuat, cukup kesusahan agar kita lebih manusiawi, dan cukup harapan untuk membuat kita mampu bertahan hidup.

Ketika dilahirkan, bayi menangis disaat semua orang tersenyum menyambut kehadirannya. Mengenangkan hidup ini agar diakhir perjalanan nanti kita bisa tersenyum ketika semua orang disekitar menangis.

Dunia ini memang panggung sandiwara, kita dan semua yang kita lihat hanyalah ilusi yang penuh dengan kiasan-kiasan. Kita bukan siapa-siapa, kita bukanlah seperti yang kita sangka. Kita hanyalah bayangan-bayangan, pujilah Dia Yang mampu membuat bayangan-bayangan bisa mendengar, melihat, merasa, berbicara, dan berbuat apa saja. Bukalah hati, mata dan pikiranmu semasa di dunia, karena siapa yang buta hatinya di dunia, di akhirat nanti akan semakin dibuat buta oleh Tuhan-nya.

Dan jangan risau dengan ujian dan dugaanNya. Bukankah semua itu anugerah yang diberikan kepada hamba-hambaNya yang mampu?


Maksudnya: "Allah tidak membebani sesuatu jiwa melainkan menurut kesanggupannya. Baginya apa yang ia mengusahakan, dan ke atasnya apa yang ia mengusahakan. "Wahai Pemelihara kami, janganlah Engkau mempertanggungjawabkan kami jika kami lupa, atau membuat kesilapan. Wahai Pemelihara kami, janganlah Engkau membebankan kami sebagaimana Engkau telah membebankan orang-orang yang sebelum kami. Wahai Pemelihara kami, janganlah Engkau membebankan kami melebihi apa yang kami ada kekuatan untuk memikul, dan maafkanlah kami, dan ampunilah kami, dan kasihanilah kami; Engkau Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang tidak percaya (kafir)."


Subhanallah~

2 comments:

  1. salam k.ayu...suka dengan perumpamaan ni...jzkk 4 sharing...

    ReplyDelete
  2. wksalam wbt syaalll !!
    waiyyaki adik cun...

    i always adore u dik with what u r going through and how u positively react to it.. ^_^

    ReplyDelete

Komen anda..