Monday, March 21, 2011

Tempayan Retak

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing tergantung pada
kedua-dua hujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari
tempayan itu retak, sedangkan tempayan satunya lagi tidak. Tempayan yang utuh
selalu dapat membawa air penuh, walaupun melalui perjalanan yang jauh dari
mata air ke rumah majikannya. Tempayan retak itu hanya dapat membawa air
setengah penuh.
Hal ini terjadi setiap hari selama dua tahun. Si tukang air hanya dapat membawa
satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan utuh
merasa bangga akan prestasinya karena dapat menunaikan tugas dengan sempurna. Di pihak lain, si tempayan retak merasa malu sekali akan ketidaksempurnaanya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari potensi yang seharusnya ia dapat berikan.


Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak berkata
kepada si tukang air, “Saya sungguh malu kepada diri saya sendiri dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya”

“Mengapa?” tanya si tukang air,”Mengapa kamu merasa malu ?”"Saya hanya mampu,
selama dua tahun ini, membawa setengah bahagian air dari yang seharusnya dapat saya bawa. Adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor
sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah
membuat mu rugi.”

Si tukang air merasa kasihan kepada si tempayan retak, dan dalam belas
kasihannya, ia menjawab,” Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin
kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”

Ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru
menyadari bahawa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali merasa sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor dan kembali tempayan retak itu meminta maaf kepada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu tidak memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu ? tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan lain yang tidak retak itu ?” Itu karena aku selalu menyadari akan
cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini, aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa adanya kamu , majikan kita tidak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”



Setiap dari kita juga sebenarnya adalah seperti tempayan retak itu. Masakan tidak, setiap dari kita ada kekurangan masing-masing. Walaupun mungkin ada yang mengatakan dia tiada kekurangan, tapi itulah sebenarnya kekurangan dia. Tak sedar diri dia ada kekurangan!

Jadi janganlah terlalu mengharapkan kesempurnaan.

Perfect is not about 'be' but its about 'to be'


Berusahalah untuk menjadi sempurna dengan segala kekurangan yang kita ada.

Saja nak kongsi. Saya suka dengan satu perkataan ini. Durrah. Maksudnya Mutiara.

Mutiara pun pada asalnya hanyalah suatu benda yang sangat tak ternilai. Hanya butiran pasir dan debu kotor yang tak ada harganya. Waktu yang kemudian membentuknya. Detik demi detik, di kedalaman samudera, dalam kegelapan. Dengan proses yang demikian panjang dan perlahan tapi penuh kesabaran. Setelah keindahannya terbentuk, ia harus dijemput di kedalaman lautan, dikeluarkan dari rumahnya yang kukuh dan dibersihkan, diolah hingga menjadi perhiasan istimewa. Sungguh sebuah proses yang panjang dan melelahkan, bahkan mungkin sahaja proses itu terhenti di tengah jalan.

Begitulah jugak kita yang pada asalnya tiada apa-apa makna pun. Banyak kekurangannya. Tapi kita lalui proses pembentukan keindahan kita yang tersendiri. Dengan harapan proses menuju keindahan dan kesempurnaan itu tak akan pernah berhenti di pertengahan jalan.

Untuk sahabat yang membaca ini, teruskan perjuangan dan jangan pernah berputus asa untuk menjadi DURRAH TERBAIK!





1 comments:

Komen anda..