Tuesday, December 7, 2010

Hijrah di Hujungnya Hasanah




Hari ini adalah 1 Muharram 1432H. ^___^

Di facebook, alhamdulillah ada sahabat-sahabat yang menulis status mengucapkan Salam Maal Hijrah, yang memberi pesan supaya membaca doa akhir dan awal tahun* (boleh rujuk artikal ini tentang kekeliruan dalam amalan ini), tak kurang ada juga yang berpesan supaya muhasabah diri, supaya tahun 1432H menjadi lebih baik dari 1431H. Teringat perbualan dengan seorang kakak dalam train ke kelas Bahasa Arab semalam, katanya ada baiknya juga facebook itu bila ada sahabat yang mengingatkan tentang Awal Muharram. Saya mengiyakan. Betul. Itulah tujuan media. Tak semuanya salah cuma perlu digunakan ke jalan yang betul.

4 hari yang lepas, Ukhti Nafisah (salah seorang senior di sini), sudah pun memberi sedikit perkongsian tentang Hijrah di Hujungnya Hasanah. Saya ingin memanjangkan notanya di sini bersama sedikit maklumat tambahan (hasil tarian jari di google) dan pendapat peribadi sebagai nota tarbiyah di TZ. Sekadar peringatan untuk diri dan bagi yang sudi membaca.

Muharram dan Hijrah

Bila berbicara tentang bulan Muharram, kita pasti akan dikaitkan dengan hijrah. Kenapa ya? Kerana hijrah berlaku pada bulan Muharram ke? Berdasarkan apa yang saya baca di sini, tak pun sebenarnya. Ada kisah tersendiri kenapa Saidina Umar memilih Muharram sebagai perkiraan tahun hijrah. Ini kerana pada masa dulu, para sahabat mengalami kekeliruan dalam urusan surat menyurat yang tidak bertarikh. Jadinya, Saidina Umar r.a mengumpul para sahabat untuk menentukan permulaan tarikh. Mulanya mereka bersepakat untuk memilih PERISTIWA HIJRAH sebagai asas permulaan tahun Islam dan kemudiannya mereka bersepakat pula untuk memilih Muharram sebagai permulaan kiraan tahun hijrah. Boleh rujuk pada link di atas untuk mengetahui lebih lanjut.

Hijrah Rasulullah dan sahabat.

Dari zaman sekolah rendah hinggalah ke kelas agama (kelas formal di sekolah maksud saya) terakhir yang kita hadiri, pasti kita masih lagi diingatkan tentang peristiwa hijrah. Bagi sahabat yang berada di sekolah aliran agama hinggalah peringkat universiti di aliran agama pasti akan lebih mudah mendapat sumber yang mengingatkan tentang peristiwa hijrah. Tapi tidak bagi saya dan mungkin yang lain. Memori saya pada peristiwa hijrah adalah apa yang saya belajar masa sekolah rendah dan menengah rendah sahaja. Jika tidak mencari dan memilih untuk berada dalam majlis ilmu mengingatiNya, pasti saya dah lama lupakan peristiwa ini. Ingat tak ingat je kot. Saya kongsikan kisah hijrah Rasulullah dan sahabat di bawah, bagi yang ingin refresh balik, boleh scroll:

*************************************************************************************

Ali ra Menggantikan Rasulullah Saw

Quraisy berencana membunuh Muhammad, karena dikuatirkan ia akan hijrah ke Medinah. Ketika itu kaum Muslimin sudah tak ada lagi yang tinggal kecuali sebagian kecil. Ketika perintah dari Allah Swr datang supaya beliau haijrah, beliau meminta Abu Bakr supaya menemaninya dalam hijrahnya itu. Sebelum itu Abu Bakr memang sudah menyiapkan dua ekor untanya yang diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah b. Uraiqiz sampai nanti tiba waktunya diperlukan.

Pada malam akan hijrah itu pula Muhammad membisikkan kepada Ali b. Abi Talib supaya memakai mantelnya yang hijau dari Hadzramaut dan supaya berbaring di tempat tidurnya. Dimintanya supaya sepeninggalnya nanti ia tinggal dulu di Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya. Demikianlah, ketika pemuda-pemuda Quraisy mengintip ke tempat tidur Nabi Saw, mereka melihat sesosok tubuh di tempat tidur itu dan mengira bahwa Nabi Saw masih tidur.

Bersembunyi di Gua Thaur

Menjelang larut malam, Rasulullah Saw keluar tanpa setahu mereka. Bersama-sama dengan Abu Bakr beliau bertolak ke arah selatan menuju gua Thaur. Hanya empat orang yang tahu keberadaan beliau berdua, yaitu Abdullah b. Abu Bakr, Aisyah dan Asma (puteri-puteri Abu Bakr), serta pembantu mereka ‘Amir b. Fuhaira. Bila hari sudah sore Asma, datang membawakan makanan buat mereka. Abdullah setiap hari berada di tengah-tengah Quraisy untuk memantau perkembangan yang terjadi untuk disampaikan pada beliau pada malam harinya. ‘Amir tugasnya menggembalakan kambing Abu Bakr’, memerah susu dan menyiapkan daging. Apabila Abdullah b. Abi Bakr kembali dari tempat mereka bersembunyi di gua itu, datang ‘Amir mengikutinya dengan kambingnya guna menghapus jejaknya.

Sementara itu pihak Quraisy berusaha sungguh-sungguh mencari mereka. Pemuda-pemuda Quraisy membawa pedang dan tongkat sambil mondar-mandir mencari ke segenap penjuru. Ketika itu mereka bergerak menuju ke gua tempat sembunyi. Lalu orang-orang Quraisy itu datang menaiki gua itu, tapi kemudian ada yang turun lagi. “Kenapa kau tidak menjenguk ke dalam gua?” tanya kawan-kawannya. “Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir,” jawabnya. “Saya melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua itu. Jadi saya mengetahui tak ada orang di sana.”

Demikanlah, kalau saja mereka ada yang menengok ke bawah pasti akan melihat beliau berdua. Tetapi orang-orang Quraisy itu makin yakin bahwa dalam gua itu tak ada manusia tatkala dilihatnya ada cabang pohon yang terkulai di mulut gua. Tak ada jalan orang akan dapat masuk ke dalamnya tanpa menghalau dahan-dahan itu. Ketika itulah mereka lalu surut kembali. Rasulullah s.a.w. tinggal dalam gua selama tiga hari tiga malam. Tentang cerita gua ini dikisahkan dalam firman Allah Swt:

“Ingatlah tatkala orang-orang kafir (Quraisy) itu berkomplot membuat rencana terhadap kau, hendak menangkap kau, atau membunuh kau, atau mengusir kau. Mereka membuat rencana dan Allah membuat rencana pula. Allah adalah Perencana terbaik.” (Qur’an, 8: 30) “Kalau kamu tak dapat menolongnya, maka Allah juga Yang telah menolongnya tatkala dia diusir oleh orang-orang kafir (Quraisy). Dia salah seorang dari dua orang itu, ketika keduanya berada dalam gua. Waktu itu ia berkata kepada temannya itu: ‘Jangan bersedih hati, Tuhan bersama kita!’ Maka Tuhan lalu memberikan ketenangan kepadanya dan dikuatkanNya dengan pasukan yang tidak kamu lihat. Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu juga yang rendah dan kalam Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Kuasa dan Bijaksana.” (Qur’an, 9: 40)

Pada hari ketiga, ketika keadaan sudah tenang, unta kedua orang itu didatangkan. Asma datang makanan. Dikisahkan, Asma merobek ikat pinggangnya lalu sebelahnya dipakai menggantungkan makanan dan yang sebelah lagi diikatkan, sehingga ia lalu diberi nama “dhat’n-nitaqain” (yang bersabuk dua). Mereka kemudian berangkat.

Karena mengetahui pihak Quraisy sangat gigih mencari mereka, maka perjalanan ke Yathrib itu mereka mengambil jalan yang tidak biasa ditempuh orang. Abdullah b. ‘Uraiqit – dari Banu Du’il – sebagai penunjuk jalan, membawa mereka ke arah selatan di bawahan Mekah, kemudian menuju Tihama di dekat pantai Laut Merah. Kedua orang itu beserta penunjuk jalannya sepanjang malam dan di waktu siang berada di atas kendaraan. Memang, Rasulullah Saw sendiri tidak pernah menyangsikan, bahwa Tuhan akan menolongnya, tetapi “jangan kamu mencampakkan diri ke dalam bencana.” Allah menolong hambaNya selama hamba menolong dirinya dan menolong sesamanya.

Suraqa

Ketika itu Quraisy mengadakan sayembara, barangsiapa bisa menyerahkan Muhammad akan diberi hadiah seratus ekor unta. Mereka sangat giat mencari Rasulullah Saw. Ketika terdengar kabar bahwa ada rombongan tiga orang sedang dalam perjalanan, mereka yakin itu adalah Muhammad dan beberapa orang sahabatnya. Suraqa b. Malik b. Ju’syum, salah seorang dari Quraisy, juga ingin memperoleh hadiah seratus ekor unta. Tetapi ia ingin memperoleh hadiah seorang diri saja. Ia mengelabui orang-orang dengan mengatakan bahwa itu bukan Muhammad. Tetapi setelah itu ia segera pulang ke rumahnya. Dipacunya kudanya ke arah yang disebutkan tadi seorang diri.

Demikian bersemangatnya Suraqa mengejar Nabi Saw hingga kudanya dua kali tersungkur ketika hendak mencapai Nabi. Tetapi melihat bahwa ia sudah hampir kedua orang itu, ia tetap memacu kudanya karena rasanya Muhammad sudah di tangan. Akan tetapi kuda itu tersungkur sekali lagi dengan keras sekali, sehingga penunggangnya terpelanting dari punggung binatang itu dan jatuh terhuyung-huyung dengan senjatanya. Suraqa merasa itu suatu alamat buruk jika ia bersikeras mengejar sasarannya itu. Sampai di situ ia berhenti dan hanya memanggil-manggil:

“Saya Suraqa bin Ju’syum! Tunggulah, saya mau bicara. Saya tidak akan melakukan sesuatu yang akan merugikan tuan-tuan.” Setelah kedua orang itu berhenti melihat kepadanya, dimintanya kepada Muhammad supaya menulis sepucuk surat kepadanya sebagai bukti bagi kedua belah pihak. Dengan permintaan Nabi, Abu Bakr lalu menulis surat itu di atas tulang atau tembikar yang lalu dilemparkannya kepada Suraqa. Setelah diambilnya oleh Suraqa surat itu ia kembali pulang. Sekarang bila ada orang mau mengejar Nabi Saw, maka dikaburkan olehnya, sesudah tadinya ia sendiri yang mengejarnya.

Perjalanan Hijrah Rasul Saw

Selama tujuh hari terus-menerus rombongan Rasulullah Saw berjalan, mengaso di bawah panas membara musim kemarau dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi lautan padang pasir dengan perasaan kuatir. Hanya karena adanya iman kepada Allah Swt membuat hati dan perasaan mereka terasa lebih aman. Ketika sudah memasuki daerah kabilah Banu Sahm dan datang pula Buraida kepala kabilah itu menyambut mereka, barulah perasaan kuatir dalam hatinya mulai hilang. Jarak mereka dengan Yathrib kini sudah dekati.

Selama mereka dalam perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang hijrah Nabi dan sahabatnya yang akan menyusul kawan-kawan yang lain, sudah tersiar di Yathrib. Penduduk kota ini sudah mengetahui, betapa kedua orang ini mengalami kekerasan dari Quraisy yang terus-menerus membuntuti. Oleh karena itu semua kaum Muslimin tetap tinggal di tempat itu menantikan kedatangan Rasulullah dengan hati penuh rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya. Banyak di antara mereka itu yang belum pernah melihatnya, meskipun sudah mendengar tentang keadaannya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka rindu sekali ingin bertemu, ingin melihatnya.

Masyarakat Madinah

Tersebarnya Islam di Yathrib dan keberanian kaum Muslimin di kota itu sebelum hijrah Nabi ke tempat tersebut sama sekali di luar dugaan kaum Muslimin Mekah. Beberapa pemuda Muslimin bahkan berani mempermainkan berhala-berhala kaum musyrik di sana. Seseorang yang bernama ‘Amr bin’l-Jamuh mempunyai sebuah patung berhala terbuat daripada kayu yang dinamainya Manat, diletakkan di daerah lingkungannya seperti biasa dilakukan oleh kaum bangsawan. ‘Amr ini adalah seorang pemimpin Banu Salima dan dari kalangan bangsawan mereka pula. Sesudah pemuda-pemuda golongannya itu masuk Islam malam-malam mereka mendatangi berhala itu lalu di bawanya dan ditangkupkan kepalanya ke dalam sebuah lubang yang oleh penduduk Yathrib biasa dipakai tempat buang air. Bila pagi-pagi berhala itu tidak ada ‘Amr mencarinya sampai diketemukan lagi, kemudian dicucinya dan dibersihkan lalu diletakkannya kembali di tempat semula, sambil ia menuduh-nuduh dan mengancam. Tetapi pemuda-pemuda itu mengulangi lagi perbuatannya mempermainkan Manat ‘Amr itu, dan diapun setiap hari mencuci dan membersihkannya. Setelah ia merasa kesal karenanya, diambilnya pedangnya dan digantungkannya pada berhala itu seraya ia berkata: “Kalau kau memang berguna, bertahanlah, dan ini pedang bersama kau.” Tetapi keesokan harinya ia sudah kehilangan lagi, dan baru diketemukannya kembali dalam sebuah sumur tercampur dengan bangkai anjing. Pedangnya sudah tak ada lagi. Sesudah kemudian ia diajak bicara oleh beberapa orang pemuka-pemuka masyarakatnya dan sesudah melihat dengan mata kepala sendiri betapa sesatnya hidup dalam syirik dan paganisma itu, yang hakekatnya akan mencampakkan jiwa manusia ke dalam jurang yang tak patut lagi bagi seorang manusia, iapun masuk Islam.

Mesjid Quba’

Ketika rombongan Rasulullah Saw sampai di Quba’, mereka tinggal empat hari ia di sana dan membangun mesjid Quba’. Di tempat ini Ali b. Abi-Talib ra menyusul, setelah mengembalikan barang-barang amanat – yang dititipkan oleh rasulullah Saw – kepada pemilik-pemiliknya di Mekah. Ali ra menempuh perjalanannya ke Yathrib dengan berjalan kaki. Malam hari ia berjalan, siangnya bersembunyi. Perjuangan yang sangat meletihkan itu ditanggungnya selama dua minggu penuh, yaitu untuk menyusul saudara-saudaranya seagama.

Sampai di Madinah (Yathrib)

Demikanlah akhirnya rombongan Rasulullah selamat sampai Madinah. Hari itu adalah hari Jum’at dan Muhammad berjum’at di Medinah. Di tempat itulah, ke dalam mesjid yang terletak di perut Wadi Ranuna itulah kaum Muslimin datang, masing-masing berusaha ingin melihat serta mendekatinya. Mereka ingin memuaskan hati terhadap orang yang selama ini belum pernah mereka lihat, hati yang sudah penuh cinta dan rangkuman iman akan risalahnya, dan yang selalu namanya disebut pada setiap kali sembahyang. Orang-orang terkemuka di Medinah menawarkan diri supaya ia tinggal pada mereka.

Tetapi ia dengan halus meminta maaf kepada mereka. Kembali ia ke atas unta betinanya, dipasangnya tali keluannya, lalu ia berjalan melalui jalan-jalan di Yathrib, di tengah-tengah kaum Muslimin yang ramai menyambutnya dan memberikan jalan sepanjang jalan yang diliwatinya itu. Seluruh penduduk Yathrib, baik Yahudi maupun orang-orang pagan menyaksikan adanya hidup baru yang bersemarak dalam kota mereka itu, menyaksikan kehadiran Rasulullah Saw, seorang pendatang baru, orang besar yang telah mempersatukan Aus dan Khazraj, yang selama itu saling bermusuhan, dan saling berperang.

Sesampainya ke sebuah tempat penjemuran kurma kepunyaan dua orang anak yatim dari Banu’n-Najjar, unta itu berlutut (berhenti). Ketika itulah Rasul turun dari untanya dan bertanya: “Kepunyaan siapa tempat ini?” tanyanya. “Kepunyaan Sahl dan Suhail b. ‘Amr,” jawab Ma’adh b. ‘Afra’. Dia adalah wali kedua anak yatim itu. Ia akan membicarakan soal tersebut dengan kedua anak itu supaya mereka puas. Dimintanya kepada Muhammad supaya di tempat itu didirikan mesjid. Muhammad mengabulkan permintaan tersebut dan dimintanya pula supaya di tempat itu didirikan mesjid dan tempat-tinggalnya.

rujukan kisah hijrah ini dari sini
***********************************************************************

Apa yang kita boleh belajar dari hijrah Rasulullah dan sahabat? Dan bagaimana pula dengan hijrah kita sekarang? Apa pula refleksi diri kita?


Iktibar dari peristiwa hijrah

Pernah tak terfikir bagaimana mereka mampu bertahan? Kagum bukan dengan keberanian Ali ra yang sanggup menggantikan tempat tidur Rasulullah SAW. Cuba imagine, andai kata tentera Quraisy membuka selimut tersebut dan mereka dapat tahu bahawa Ali ra yang sedang tidur dan bukannya Rasulullah, apa agaknya yang bakal berlaku? Pastinya Ali ra akan dibunuh dan rancangan Rasulullah SAW juga akan tergendala. Bagaimana pula dengan keberanian Asma' binti Abu Bakar yang sedang mengandung ketika itu tapi sanggup berdepan dengan risiko kematian untuk menghantar makanan kepada Rasulullah dan Abu Bakar dengan memanjat bukit yang berbatu bata itu? Kerana apa ya? Kerana niat mereka. Niat mereka semata-mata kerana Allah Taala. Tiada yang lain. Dan juga keyakinan yang tinggi mereka terhadap janji Allah. Cuba perhatikan keadaan Rasulullah SAW dan Abu Bakar dalam Gua Thaur. Betapa takut dan resahnya Abu Bakar kerana andai kata tentera Quraisy tunduk sahaja ke pintu Gua Thaur tersebut (yang kecil - boleh rujuk pada gambar) pasti akan ternampak mereka yang sedang bersembunyi. Tapi apa kata Rasulullah untuk menenangkan Abu Bakar, (9:40) :




Maksudnya:
Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah) ; sedang dia salah seorang dari dua orang ketika kedua-duanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentera (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

La Tahzan. Jangan bersedih. Pesan Rasulullah SAW pada Abu Bakar yang sedang ketakutan dan amat risau akan keselamatan Rasulullah SAW. Betapa tingginya tahap tawakal mereka pada Allah dan betapa hebatnya ikatan ukhuwah mereka. Ukhuwah fillah. Pasti bahagia dan tenang jiwa mana-mana sahabat yang apabila berdepan dengan musibah, sahabatnya mengatakan, La Tahzan.. Allah kan ada. ^____^

Itu antara iktibar yang boleh diambil dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat. Bagaimana pula dengan hijrah kita?

Refleksi Diri

Bila ditanya tentang apa makna hijrah, antara jawapan yang biasa diberi adalah seperti:

>>berhijrah dari kurang baik kepada baik
>>berhijrah dari baik kepada lebih baik
>>berhijrah untuk mencapai lebih kejayaan
>>berhijrah untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak

dan sebagainya...

Tapi sedar tak hijrah yang bertepatan dengan firman Allah dalam At-Taubah(9):20 adalah hijrah yang berserta iman dan didorong dengan jihad ke jalan Allah (boleh rujuk artikal Ustaz Pahrol di sini).



Maksudnya:
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, lebih besar derajatnya disisi Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan."

Tiga perkataan yang 'sinonim' ;

HIJRAH = IMAN = JIHAD

Sebab itu kita perlu tengok balik hijrah kita macam mana. Adakah hijrah kita untuk mencapai lebih banyak kejayaan itu didorong dengan iman dan disertakan semangat jihad kepada Allah ataupun tidak. Memang betul kita perlu lebih cemerlang dalam pelajaran, lebih kuat bekerja keras mencari rezeki tapi adakah kita melakukannya kerana iman dan dengan niat untuk berjihad di jalan Allah.

Mungkin ada yang seakan mengalami 'rejection' bila disebut jihad. Jangan sempitkan fikiran dengan menganggap jihad tu seperti pergi berperang di Palestin. Tak perlu pun. Dan penduduk Palestin di Gaza sana juga tak adalah mengharapkan bantuan kita pun untuk berjihad melawan rejim Zionis memandangkan iman kita ini hanyalah senipis kulit bawang. Bagi pelajar biologi yang pernah buat eksperimen menggunakan kulit bawang merah (yang nipis, bukan yang tebal tu, kalau tak tahu jugak pasti tak pernah masak la nih) untuk tengok plant cell bawah mikroskop pasti tahu betapa nipisnya kulit bawang tu dan betapa mudahnya untuk dirobekkan. Apa yang mereka harapkan adalah kita berjihad untuk tingkatkan iman kita dan lawan GF, Ghazwatul Fikr. (klik untuk tahu apa itu GF, yang pasti bukan girlfriend k!)

Malahan hijrah juga tak bermaksud peningkatan taraf hidup semata-mata. Cuba renungkan balik hijrah Mus'ab bin Umayr ra. Mus'ab adalah anak bangsawan yang hidup serba-serbi mewah. Bajunya baju termahal serta dari kain terbaik berbanding pemuda-pemuda seusianya. Turut menjadi kegilaan wanita-wanita yang mengaguminya. Namun apa kesudahan penghujung hayatnya setelah berhijrah dan memeluk Islam dan beriman pada Allah SWT? Beliau syahid di medan jihad dalam keadaan tidak cukup kain untuk menutup jenazahnya. Jika ditutup kepala, kakinya nampak, jika ditutup kaki, kepalanya nampak. Rasulullah SAW menangis melihat keadaan jenazah Mus'ab bila mengenangkan bahawa beliau yang pada asalnya dari keluarga bangsawan yang pakaiannya labuh dan cantik-cantik tapi syahid dalam keadaan yang tidak cukup kain seperti itu.

Jadi, sama-sama muhasabah. Berhijrah itu jangan hanya dianggap semata-mata miskin kepada kaya tapi juga hijrah bersama iman dan jihad di jalanNya. Bukanlah bermaksud tak perlu berhijrah untuk mencapai lebih banyak kejayaan, tapi pastikan kejayaan itu bersama peningkatan iman dan bertujuan untuk jihad di jalan Allah.

Graf Mukmin


graf dari LangitIlahi

Dalam usaha hijrah ini, pastikan hijrah kita ke arah lebih baik. Namun, semua orang pasti tahu ini. " Kita bukan maksum, tapi hamba lemah yang sentiasa melakukan kesilapan". Tapi ini bukan alasan untuk terus biarkan diri berada di takuk lama. Dakilah tangga perubahan dalam kehidupan dan berhijrahlah bersama iman di jalan jihad fi sabilillah. Seperti graf tersebut, naik dan turun. Tetapi dalam bentuk yang meningkat. Bukannya semakin merudum. Naik dan turun kerana kita lemah dan mudah sangat terikut dengan hasutan syaitan tapi pastikan dalam bentuk meningkat. Maksudnya, hari ini lebih baik dari semalam. Tak pun, minggu ini lebih baik dari minggu lepas. Tak pun bulan ini lebih baik dari bulan lepas. Tak pun semester ini lebih baik dari semester lepas. Dan paling kurang, tahun ini lebih baik dari tahun lepas. InsyaAllah.

*Akhir kata, Selamat Berhijrah Bersama Peningkatan Iman di Jalan Jihad fi sabilillah*


2 comments:

  1. syukran atas prkongsian ini..
    btapa bsar pngorbanan Bginda dan shabat utk mncapai hijrh..dmi Allah..dmi islam..
    tpi kita???huh...
    yap!
    hjrah sbnarnya sgt luas mksudnya..
    cuma..
    kta ni..
    yg kurg ilmu smpitkan ruang lingkupnya..
    dn ada yg rsanya lagi "best" mnyatakan hijrah ni sprt..."eish...aku nak berhijrah la dr jd pnipu kpd pncuri pulak lah.."
    err...ini ke sbnarnya mksud hijrah yg mreka fham?
    wallahu'alam..

    ReplyDelete
  2. afwan... :) n jzkkk krn sudi mmbaca n komen

    mgkin ada sstgh antr kita yg smpitkn erti hijrah itu dan 'mmprmainkn' istilah hijrah.. utk dibuat lawak mgkin.. itu yg mgkin ada yg mcm murabbi kata, "dari pnipu kpd pncuri'..
    namun, anggap saja mreka msih blum memahami n x smestinya yg x mmhami itu akn slamanya x mmahami. sama sperti kita yg dulu tak memahami, dgn hidayahNya, kita bleh mmahami.. n moga apa yg dfhmi ini bleh diamalkn.. insyaAllah ^____^

    ReplyDelete

Komen anda..